Gara-gara Batu Ginjal, Saya Pingsan di Taksi

Posted on





Gara-gara Batu Ginjal, Saya Pingsan di Taksi

Bapak mau mengangkat tangan ini? suster itu kembali bertanya. Dengan cepat
saya lalu mengedipkan mata & berusaha buat mengangguk. Perawat itupun lalu
mengangkat tangan saya, dengan sedikit sisa tenaga yang masih ada saya berusaha
supaya tangan saya itu mengarah ke kantong kemeja. Rupanya perawat ini agak
cerdas membaca isi pikiran saya & mengarahkan tangan saya ke dada &
akhirnya menyentuh kantong saya.

Sebelum diangkat kedalam ruang
gawat darurat, tubuh maupun disekitar jok tempat saya tertidur di periksa oleh
perawat. Mungkin mereka mencari darah disekitar tubuh saya, buat membuktikan
kalau saya korban kecelakaan atau lainnya. Tapi lantaran tubuh saya bersih,
kecuali mungkin bekas sisa muntahan yang masih melekat di jok taksi maupun lisan
saya, akhirnya saya di gotong ke atas brancard yang sudah menunggu di samping
taksi & kemudian didorong kedalam ruang gawat darurat.

Saya mencoba
buat tidur lagi, tapi tidak bisa. Rupanya kesadaran saya sungguh sudah mendekati
pulih. Saya lalu mencicipi bagaimana keadaan pinggang saya yang sudah terasa
enteng, kaki, tangan semuanya sudah normal lagi, rasa pusingpun sudah hilang,
hanya lisan memang terasa kering.

Otak saya mengatakan bahwa saya wajib
memberi tahu dokter, bahwa di kantong kemeja saya ada masih tersisa sebungkus
jamu yang saya beli tadi pagi. Saya lalu menggerakkan tangan kiri saya, bila
dalam keadaan normal mengangkat tangan & merogoh kantong kemeja ialah hal
yang sangat sepele, berbeda dengan saat ini. Tangan saya terasa begitu berat,
mengangkat satu sentimeter saja dari kasur saya tidak bisa, apalagi buat merogoh
kantong. Tapi saya wajib berusaha menyampaikan tanda kepada dokter ataupun
perawat yang saat itu tengah berdiri kebingungan. Tangan saya  gerakkan
beberapa kali, begitu juga jari-jari kiri saya, lantaran tangan kiri saya berada
lebih dekat ke tempat mereka berada.

Saya hanya mendengar istilah baral
yang di ucapkan dokter itu kepada perawat sebelum melangkah meninggalkan ruangan
gawat darurat.

Saya menyodorkan seluruh yang ada di kantong saya itu
kepada si perawat. Setelah melihatnya dia lalu mengambil yang seribu rupiah
& mengembalikan sisanya kepada saya. sudah agak pak, segini saja tidak
apa-apa.

Dengan perasaan yang sulit buat diungkapkan, saya tinggalkan
rumah sakit itu & segera pulang ke rumah kakak dengan naik Metromini. Suatu
keajaiban juga, saya masih sempat pergi ke Masjid yang ada di komplek Sekneg
buat melakukan shalat Jumat hari itu. Satu hal yang masih saya ingat sekarang
ialah nama dokter yang merawat saya itu, Dr. Dindin.

Rupanya salah
seorang perawat memperhatikan pergerakan tangan saya itu & menghampiri saya,
dia lalu memegang tangan saya sembari bertanya: kenapa tangannya
pak?

Saya hanya menyampaikan kode dengan mata yang mengarah ke kantong
kemeja saya, cuma lantaran posisi saya tertelentang, maka isyarat saya itu tidak
begitu terperinci arahnya.

Setelah sungguh merasa bertenaga buat berjalan
pulang kerumah kakak saya di jalan Mardani, saya lalu mendekati para perawat itu
& menanyakan biaya pengobatan saya. Si perawat menyodorkan kwitansi. Seribu
limaratus, pak!

Saya mencoba buat menjawab, tapi tenggorokan maupun lisan
saya terasa kering, istirahat saja dulu pak, kalau belum bertenaga bangun
katanya melanjutkan.

Bagaimana pak, enak tidurnya? perawat tadi menanyai
saya setelah dia melihat saya terbangun.

Jadi?

Kedua perawat
itupun segera beraksi sesuai perintah dokter, beberapa saat kemudian satu
suntikan mendarat di pantat saya. Setelah itu saya di tinggalkan setelah
meningalkan pesan, tidur saja dulu ya pak!

Saya lalu merogoh kantong
& mengeluarkan isinya, kurang! Uang saya hanya ada Rp. 1.175.

Dengan
langkah tertatih saya berusaha menggapai taksi yang berhenti tidak lebih 2 meter
di depan saya, sembari berusaha menjaga keseimbangan tubuh supaya tidak jatuh,
dan menahan rasa sakit di pinggang yang juga tidak mau diajak
berkompromi.

Ada yang mau di ambil pak? tanya perawat itu. Kembali
saya mengedipkan mata disertai anggukan yang lemah.

Uang bapak ada
berapa?

Saya tidak tahu berapa lama saya tertidur diatas brancard di
ruangan gawat darurat itu, begitu saya terbangun rasa sakit di pinggang saya
mulai berkurang, tanganpun sudah mulai bisa di gerakkan secara normal walau
masih lemah.

.

Karena sudah merasa tidak nyaman tidur diatas
brancard disamping perawat yang asyik mengobrol, saya pelan-pelan bangun.
Alhamdulillah semuanya kini sudah normal lagi, saya coba buat berdiri, aman
sudah tidak goyang lagi. Saya lalu melihat ke sekeliling ruang gawat darurat
itu. Rupanya hanya saya satu-satunya pasien di situ.

Begitu menginjakkan
kaki saya di jalan setelah turun dari oplet, saya merasa pusing, badan rasanya
melayang & rasanya saya tidak berpijak di bumi. Untung saya masih
berpegangan ke pintu oplet, sehingga tidak sungguh terjatuh. Pada saat bersamaan
sebuah taksi President yang saat itu masih berwarna kuning lewat di samping
saya, dengan segera tangan saya yang satu lagi melambai menghentikan taksi
itu.

Tiduran di taksi dengan kondisi sakit saat itu membuat perut saya
tidak enak, rasa mual bergolak & muntah wajib segera di keluarkan. Dalam
keadaan taksi berjalan itu saya pelan-pelan membuka pintu taksi buat
mengeluarkan muntah saya ke jalan, supaya tidak mengotori taksi. Rupanya hal itu
di ketahui oleh sang sopir taksi, dia lalu memperlambat laju jalan taksinya.
Setelah saya muntah tanpa mengeluarkan isi perut selain cairan bening, saya
kembali menutup pintu taksi, & taksi pun kembali berjalan normal. Tak berapa
lama perut saya mengamuk lagi, & insiden tadi berulang lagi,  tapi kali
ini isi perut saya mulai keluar, walau tidak banyak. Tiga kali acara muntah ini
berlangsung, hingga daya tahan tubuh saya sungguh drop. Hingga akhirnya saya
tidak sadar lagi saat hingga di Rumah Sakit Islam Yarsi, Cempaka
Putih.

Sampai di ruang gawat darurat saya di periksa oleh dokter yang di
bantu oleh 2 perawat. Setelah memeriksa dengan teliti, saya melihat dokter agak
bingung menentukan diagnosa terhadap penyakit saya. Sayapun tidak bisa berbuat
banyak, lantaran tingkat kesadaran saya yang belum pulih & sayapun tidak
bisa berbicara. Mulut rasanya terkunci & begitu berat buat di gerakkan.
Walau otak saya masih bisa berfikir jernih, tapi semuanya sia-sia & tidak
berarti apa-apa, lantaran lisan saya begitu kaku, tubuh sayapun tidak bisa di
gerakkan, hingga akhirnya tidak satupun tindakan yang bisa dilakukan dokter buat
memperbaiki keadaan. Sementara sakit di pinggang masih terasa begitu menguras
energi saya buat menahannya.

Mungkin tingkat kesadaran saya saat itu
hanya tinggal kurang lebih 10 persen. Sayup-sayup saya mendengar bagaimana
petugas rumah sakit mencecar sopir taksi dengan pertanyaan yang tidak bisa di
jawabnya. Kalaupun di jawab, jawabannya itu sangat gagap. Sementara saya tidak
bisa menyampaikan penjelasan apa-apa buat menolong sopir taksi yang tidak
bersalah itu. Yang masih terperinci terngiang oleh saya hingga saat ini ialah
saat sopir taksi itu mengatakan bahwa waktu saya naik taksinya dalam keadaan
sadar & tidak apa-apa.

Ya, bapak boleh pulang kalau memang sudah
bertenaga, & uang ini sudah agak buat biaya perawatan bapak
tadi.

Perawat itu lalu mengeluarkan isi kantong kemeja saya. Begitu dia
menemukan bungkusan jamu yang masih utuh tersebut dia pribadi bertanya. bapak
minum jamu ini? tanyanya sembari memperlihatkan jamu tersebut kepada dokter yang
juga segera berdiri dari kursi di belakang meja di ruang gawat darurat
itu.

Dengan perjuangan menahan keseimbangan tubuh supaya tidak jatuh,
akhirnya saya hingga juga di taksi yang telah menunggu. Setelah masuk &
duduk di jok belakang, saya lalu bertanya kepada sopir berapa ongkos ke Rumah
Sakit Islam Yarsi, Cempaka Putih. Lima ratus! istilah sopir taksi sembari
melihat kearah saya dari kaca spion. Saya lalu menyampaikan uang lima ratus
rupiah kepadanya, setelah itu pribadi merebahkan diri diatas jok taksi itu. Saat
itu saya tidak lagi memikirkan bagaimana hingga sesegera mungkin ke rumah kakak
saya, tapi bagaimana saya wajib segera hingga di rumah sakit & mendapatkan
perawatan. Karena saya sudah tidak bertenaga lagi menahan rasa sakit di pinggang
ini, rasanya pinggang saya di tarik atau dibetot kedalam tubuh saya dengan
kekuatan yang saya tidak bisa melawannya. Kini sakit itu telah merambah bagian
lain tubuh saya, badan rasanya meriang, keringat bercucuran sehingga membasahi
seluruh tubuh juga rambut & paras saya, kakipun lemas buat dibawa berjalan
& juga sulit buat mempertahankan keseimbangan tubuh saat berdiri, apalagi
waktu berjalan. Saya juga tidak ingin punya hutang ke pada sopir taksi,
bila dalam bepergian menuju rumah sakit ini Tuhan mengambil nyawa
saya.

Uang saya kurang, boleh saya menjemput kekurangannya dulu pulang
& balik lagi kesini?

Setelah terjadi ke vakuman beberapa saat tanpa
tindakan apapun dari dokter & perawat, otak saya mulai bekerja. Bila hal ini
dibiarkan berlanjut terus, maka saya akan semakin mendapatkan kesulitan. Saya
wajib melakukan sesuatu supaya dokter tahu apa yang saat ini saya derita, supaya
dia juga tahu apa tindakan yang wajib dilakukan.

Info Dr OZ Lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *